
Guru Besar Institut Mpu Kuturan Bali, Prof. Kadek Aria Prima Dewi PF, menilai kehadiran fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali merupakan bagian dari sistem penanganan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, bukan solusi tunggal untuk mengatasi persoalan sampah.
Menurut Prof. Kadek Aria, PSEL merupakan inovasi yang perlu terus diuji dan diawasi melalui implementasinya. Namun, keberadaan teknologi tersebut tidak boleh mengurangi kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Ia menegaskan bahwa semakin modern fasilitas pengolahan di hilir, semakin penting pula kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga.

“PSEL adalah ikhtiar baru yang perlu diuji dan diawasi lewat pelaksanaannya, bukan jalan pintas yang membuat kewajiban memilah sampah dari rumah jadi tidak relevan lagi. Justru sebaliknya, semakin canggih fasilitas di hilir, semakin penting perilaku memilah di hulu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Danantara Indonesia meresmikan fasilitas PSEL di Desa Pedungan pada Rabu (8/7). Peresmian itu menandai dimulainya babak baru dalam upaya penanganan krisis sampah di Bali melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Lebih lanjut, Prof. Kadek Aria menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di Bali tidak hanya diukur dari beroperasinya PSEL. Keberhasilan juga bergantung pada penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari pengurangan sampah, pemilahan, daur ulang, hingga pengolahan akhir yang terintegrasi. Dengan sinergi antara teknologi dan partisipasi masyarakat, Bali diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

















