
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, memastikan antrean panjang kendaraan truk logistik menuju lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk telah terurai dan aktivitas kembali berjalan normal. Kondisi ini menjadi kabar positif setelah sebelumnya terjadi kepadatan signifikan akibat lonjakan kendaraan pascaarus mudik Lebaran 2026 serta berakhirnya pembatasan operasional kendaraan barang.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko, menyampaikan bahwa sejak Sabtu (4/4) pagi kondisi lalu lintas di sekitar pelabuhan mulai kembali terkendali. “Alhamdulillah sejak pagi tadi antrean panjang sudah terurai, baik dari arah utara (Situbondo–Banyuwangi) maupun dari arah selatan (Jember–Banyuwangi), dan arus penyeberangan Ketapang–Gilimanuk berjalan normal,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi kendaraan telah kembali merata dan tidak lagi terjadi penumpukan di titik-titik akses utama menuju pelabuhan.

Sebelumnya, dalam beberapa hari terakhir, jalan nasional menuju Pelabuhan Ketapang mengalami kepadatan luar biasa dengan antrean truk logistik yang mencapai belasan kilometer. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya volume kendaraan barang setelah pembatasan operasional truk sumbu tiga ke atas selama periode mudik Lebaran berakhir. Akibatnya, terjadi akumulasi kendaraan yang secara bersamaan memasuki jalur menuju pelabuhan.
Normalisasi arus lalu lintas ini tidak terlepas dari upaya pengaturan operasional yang dilakukan oleh pihak ASDP bersama instansi terkait. Pengelolaan antrean, pengaturan jadwal penyeberangan, serta optimalisasi kapasitas kapal menjadi faktor penting dalam mengurai kepadatan yang sempat terjadi. Koordinasi lintas sektor juga berperan dalam memastikan distribusi kendaraan dapat kembali berjalan lancar.
Dengan kondisi yang telah kembali normal, ASDP mengimbau para pengguna jasa penyeberangan, khususnya pelaku logistik, untuk tetap mengikuti arahan petugas di lapangan serta memperhatikan jadwal operasional pelabuhan. Diharapkan kelancaran ini dapat terus terjaga sehingga mobilitas barang dan penumpang di lintasan Ketapang–Gilimanuk tetap berjalan efisien dan tidak kembali mengalami kepadatan seperti sebelumnya.

















