Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi mengeluarkan peringatan dini waspada gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi pada 26 hingga 29 Januari 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh keberadaan Siklon Tropis (TC) Luana di sebelah barat Australia, serta terbentuknya daerah konvergensi di Samudera Hindia yang memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah selatan Jawa Timur dan sekitarnya.
Berdasarkan hasil pantauan sinoptik, pertumbuhan awan konvektif terpantau cukup signifikan di wilayah selatan Jawa Timur. Pola angin didominasi dari arah Barat hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 37 knot. Sementara itu, kondisi cuaca secara umum diprakirakan berawan tebal hingga hujan dengan intensitas sedang, yang berpotensi memperburuk kondisi perairan.
BMKG mengidentifikasi sejumlah wilayah yang masuk dalam kategori gelombang tinggi, dengan ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4,0 meter. Wilayah perairan yang perlu diwaspadai meliputi Perairan Selatan Pulau Bali, Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, serta Perairan Banyuwangi.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan pelaku aktivitas pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan. Risiko keselamatan pelayaran diperkirakan meningkat terutama bagi perahu nelayan, yang berisiko apabila kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang melampaui 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang dinilai berisiko pada kecepatan angin di atas 16 knot dengan gelombang lebih dari 1,5 meter, serta kapal feri berpotensi mengalami gangguan keselamatan saat angin melebihi 21 knot dan gelombang mencapai 2,5 meter atau lebih.
BMKG menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran, termasuk mempertimbangkan penundaan aktivitas laut apabila kondisi tidak memungkinkan. Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca maritim terkini yang dikeluarkan oleh BMKG melalui kanal resmi.
Peringatan dini ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi guna meminimalkan risiko kecelakaan laut dan dampak buruk lainnya akibat kondisi cuaca ekstrem di wilayah perairan Bali dan Banyuwangi.
Sumber: BMKG Tanjung Perak Surabaya dan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III



















