Cuaca ekstrem yang melanda perairan Bali Timur dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Kabupaten Karangasem. Angin kencang disertai gelombang tinggi di kawasan Selat Lombok memaksa sebagian besar nelayan memilih menghentikan sementara kegiatan melaut demi mengutamakan keselamatan. Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, menyebabkan aktivitas perikanan tradisional di pesisir Karangasem nyaris terhenti. Nelayan menilai cuaca yang tidak bersahabat meningkatkan risiko kecelakaan laut, terutama bagi mereka yang menggunakan perahu kecil dengan peralatan keselamatan terbatas. Situasi tersebut mencerminkan kerentanan sektor perikanan tradisional terhadap perubahan cuaca ekstrem yang belakangan kian sering terjadi di wilayah perairan Bali Timur.
Berdasarkan pantauan nelayan setempat, tinggi gelombang di Selat Lombok mencapai kisaran 1,5 hingga 2 meter, disertai hembusan angin yang cukup kuat dan tidak menentu. Kondisi ini membuat hasil tangkapan ikan menjadi sangat minim, bahkan tidak sebanding dengan risiko yang harus dihadapi. Sejumlah nelayan mengaku telah mencoba melaut pada awal cuaca memburuk, namun memilih kembali ke darat setelah melihat kondisi perairan yang berbahaya. Hanya segelintir nelayan yang nekat turun ke laut, itu pun dengan waktu melaut yang sangat terbatas dan area tangkap yang lebih dekat ke garis pantai. Para nelayan tersebut umumnya mengandalkan pengalaman dan insting cuaca, namun tetap menyadari bahwa risiko kecelakaan tetap tinggi. Minimnya hasil tangkapan dalam kondisi seperti ini semakin memperkuat keputusan mayoritas nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut.
Terhentinya aktivitas melaut membawa dampak langsung terhadap penghasilan nelayan dan keluarganya. Sebagian besar nelayan Karangasem menggantungkan pendapatan harian dari hasil tangkapan ikan yang dijual ke pasar lokal atau pengepul. Ketika cuaca buruk berlangsung berhari-hari, pemasukan praktis terhenti sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Beberapa nelayan menyiasati kondisi tersebut dengan mencari pekerjaan alternatif di darat, seperti bekerja serabutan, memperbaiki jaring dan perahu, atau membantu aktivitas pertanian dan perkebunan warga sekitar. Namun, penghasilan dari pekerjaan alternatif tersebut dinilai tidak sebanding dengan pendapatan melaut dalam kondisi normal. Kondisi ini menambah beban ekonomi rumah tangga nelayan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki sumber pendapatan lain di luar sektor perikanan.
Pemerhati kelautan menilai cuaca ekstrem yang terjadi di perairan Karangasem tidak terlepas dari dinamika atmosfer dan perubahan pola angin musiman di wilayah Indonesia bagian timur. Angin kencang dan gelombang tinggi di Selat Lombok dikenal sebagai fenomena yang kerap muncul pada periode tertentu, namun intensitasnya kini dinilai semakin tidak menentu. Kondisi ini menuntut nelayan untuk semakin adaptif dan waspada dalam merencanakan aktivitas melaut. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini cuaca laut serta meningkatkan akses informasi bagi nelayan tradisional, agar mereka dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum berangkat melaut. Selain itu, peningkatan sarana keselamatan laut dan edukasi mitigasi risiko menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan potensi kecelakaan.
Dalam situasi cuaca buruk yang berkepanjangan, keselamatan tetap menjadi prioritas utama bagi para nelayan Karangasem. Pengalaman kecelakaan laut di masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa memaksakan diri melaut dalam kondisi ekstrem dapat berakibat fatal. Nelayan berharap cuaca segera membaik agar aktivitas melaut dapat kembali berjalan normal dan roda perekonomian pesisir kembali bergerak. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih kepada nelayan terdampak, baik melalui bantuan sosial sementara maupun program perlindungan ekonomi bagi kelompok nelayan kecil. Cuaca ekstrem yang membuat nelayan tak berani melaut ini menjadi pengingat bahwa sektor perikanan tradisional sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga memerlukan dukungan kebijakan yang berkelanjutan untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir di tengah tantangan perubahan iklim.



















